Christina Pasaribu
1 day agoMenyusun Rencana Pemulihan Bencana Berdasarkan Prinsip ISO 27001
Pelajari langkah-langkah penting dalam menyusun rencana pemulihan bencana berdasarkan prinsip ISO 27001 untuk melindungi keamanan informasi perusahaan Anda. Temukan bagaimana Gaivo Consulting dapat membantu Anda memperoleh sertifikasi ISO tanpa kesulitan.
Gambar Ilustrasi Menyusun Rencana Pemulihan Bencana Berdasarkan Prinsip ISO 27001

Baca Juga
Ketika Bencana Datang, Apakah Data Anda Sudah Punya 'Rencana Kabur'?
Bayangkan ini: gempa bumi mengguncang kota, listrik padam total selama berhari-hari. Server Anda mati, akses ke data pelanggan hilang, dan operasional bisnis lumpuh total. Bukan skenario film, ini adalah risiko nyata yang dihadapi setiap perusahaan di Indonesia. Yang lebih mengejutkan, berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan badai meningkat signifikan. Namun, bencana tak selalu bersifat alam. Serangan siber, kegagalan perangkat keras, atau bahkan kesalahan manusia bisa menjadi 'bencana' yang mengancam aset paling berharga zaman sekarang: informasi.
Di sinilah Rencana Pemulihan Bencana (Disaster Recovery Plan/DRP) bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan. Dan kerangka terbaik untuk mendasarinya? Standar internasional ISO 27001 tentang Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI). Artikel ini akan membimbing Anda menyusun rencana pemulihan bencana yang tangguh, bukan dengan teori semata, tetapi berdasarkan prinsip-prinsip kokoh ISO 27001 yang telah teruji. Kami akan jabarkan langkah-langkah praktis, dari analisis dampak bisnis hingga uji coba rutin, sehingga organisasi Anda benar-benar resilient.

Baca Juga
Memahami Dasar: Mengapa ISO 27001 Menjadi Fondasi DRP yang Ideal?
Banyak yang mengira Disaster Recovery Plan hanyalah tentang backup data dan server cadangan. Persepsi ini outdated dan berbahaya. Prinsip ISO 27001, khususnya pada klausul A.17 yang secara eksplisit membahas “Information security aspects of business continuity management”, menawarkan pendekatan holistik. Standar ini tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada proses, orang, dan kebijakan.
Korelasi Antara Keamanan Informasi dan Kelangsungan Bisnis
ISO 27001 memandang keamanan informasi sebagai enabler bagi kelangsungan bisnis. Artinya, DRP yang baik harus melindungi aset informasi (kerahasiaan, integritas, ketersediaannya) agar bisnis dapat terus berjalan atau cepat pulih. Misalnya, rencana Anda harus memetakan, mana data yang kritis dan harus dipulihkan dalam 2 jam pertama, dan mana yang bisa menunggu 48 jam. Tanpa analisis berbasis risiko ala ISO 27001, Anda mungkin menghabiskan sumber daya untuk memulihkan sistem yang tidak vital sementara layanan inti terbengkalai.
Annex A.17: Panduan Operasional yang Spesifik
Klausul A.17 dalam ISO 27001 sering disebut sebagai ‘jantung’ dari perencanaan kesinambungan bisnis dan pemulihan bencana. Klausul ini terbagi menjadi dua bagian kunci:
- Information Security Continuity (A.17.1): Menekankan pada perencanaan, implementasi, dan pemeliharaan proses untuk memastikan keamanan informasi tetap pada level yang diperlukan selama periode gangguan. Di sini, Anda akan menyusun kebijakan, menetapkan tanggung jawab, dan melakukan Business Impact Analysis (BIA).
- Redundancies (A.17.2): Fokus pada ketersediaan fasilitas dan infrastruktur informasi. Ini adalah bagian teknis yang sering dipikirkan banyak orang, seperti memiliki data center cadangan atau sistem cloud. Namun, implementasinya harus mengikuti hasil dari BIA.
Dengan berpedoman pada klausul ini, DRP Anda menjadi terdokumentasi, terukur, dan selaras dengan tujuan bisnis, bukan sekadar dokumen yang tersimpan rapat di rak.

Baca Juga
Langkah Awal yang Sering Terlewatkan: Business Impact Analysis (BIA) dan Risk Assessment
Sebelum menulis satu pun prosedur pemulihan, Anda perlu tahu what dan why-nya. Dua proses kunci dari prinsip ISO 27001 ini adalah fondasi yang menentukan kekokohan seluruh rencana Anda.
Melakukan Business Impact Analysis (BIA) yang Mendalam
BIA adalah proses untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial dari gangguan terhadap proses bisnis. Dari pengalaman kami di lapangan, banyak perusahaan melakukan kesalahan dengan langsung membeli solusi teknologi mahal tanpa BIA yang solid. Pertanyaan kuncinya: Jika sistem X mati selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, apa dampak finansial, reputasi, dan operasionalnya? Lakukan workshop dengan semua stakeholder dari berbagai departemen. Hasil BIA akan menentukan Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO) untuk setiap aset informasi. RTO adalah waktu maksimal pemulihan, sedangkan RPO adalah kehilangan data maksimal yang bisa ditolerir (misal, data backup paling lama 4 jam sebelum kejadian).
Mengintegrasikan Risk Assessment ISO 27001 ke dalam Skenario Bencana
Risk Assessment atau penilaian risiko adalah napas dari ISO 27001. Dalam konteks DRP, Anda perlu mengidentifikasi ancaman spesifik yang bisa menyebabkan bencana. Jangan hanya berpikir gempa dan banjir. Ransomware yang mengenkripsi seluruh data, kebakaran di ruang server, atau bahkan kesalahan konfigurasi yang menghapus database adalah ancaman nyata. Nilai kemungkinan (likelihood) dan dampaknya (impact) untuk setiap skenario. Sumber daya seperti Katigaku menyediakan wawasan mendalam tentang metodologi penilaian risiko yang sesuai dengan standar internasional. Integrasi ini memastikan rencana pemulihan Anda proaktif, bukan reaktif.

Baca Juga
Merancang Rencana Pemulihan: Dari Dokumen ke Tindakan Nyata
Setelah BIA dan Risk Assessment selesai, kini saatnya merancang dokumen DRP yang eksekutif. Ingat, dokumen ini harus hidup, mudah dipahami, dan dapat dijalankan dalam kondisi panik sekalipun.
Struktur Dokumen DRP yang Komprehensif
Dokumen DRP yang baik mencakup beberapa bagian utama:
- Kebijakan dan Tujuan: Pernyataan resmi manajemen tentang komitmen terhadap DRP.
- Tim Tanggap Darurat: Struktur organisasi saat bencana, dengan daftar nama, kontak (termasuk cadangan), dan tanggung jawab spesifik. Sertakan juga pihak eksternal seperti vendor atau ahli K3 jika diperlukan.
- Prosedur Aktivasi: Kriteria dan otoritas yang jelas untuk menyatakan status 'bencana' dan mengaktifkan rencana.
- Prosedur Pemulihan Berlapis: Instruksi detail untuk memulihkan infrastruktur TI, data, aplikasi, dan fasilitas fisik. Gunakan bahasa yang operasional, bukan teknis tinggi.
- Prosedur Komunikasi Krisis: Bagaimana berkomunikasi dengan karyawan, pelanggan, mitra, media, dan regulator selama dan setelah insiden.
Menentukan Strategi Pemulihan yang Realistis
Strategi ini adalah terjemahan dari RTO/RPO ke dalam solusi teknis dan operasional. Apakah Anda perlu hot site (fasilitas cadangan siap pakai), cold site, atau mengandalkan cloud? Pertimbangkan juga pemulihan untuk workforce. Di era hybrid work, apakah karyawan bisa bekerja dari rumah? Pastikan strategi Anda sejalan dengan kemampuan anggaran. Konsultasi dengan penyedia jasa seperti Gaivo Consulting dapat membantu Anda memilih strategi yang cost-effective dan memenuhi prinsip ISO 27001.

Baca Juga
Uji Coba dan Pemeliharaan: Menjaga Rencana Agar Tidak 'Kadaluarsa'
Rencana pemulihan bencana yang tidak pernah diuji sama berbahayanya dengan tidak punya rencana sama sekali. Ini adalah bagian di banyak perusahaan gagal.
Jenis-Jenis Uji Coba dan Simulasi yang Efektif
ISO 27001 mensyaratkan rencana kesinambungan bisnis untuk diuji secara berkala. Mulailah dengan uji coba sederhana:
- Tabletop Exercise: Mengumpulkan tim untuk membahas skenario bencana secara teori. Ini rendah biaya dan berguna untuk melatih respons dan koordinasi.
- Simulasi Parsial: Memulihkan sistem tertentu, seperti email atau server database, di lingkungan terisolasi.
- Simulasi Lengkap: Mengalihkan operasional ke situs cadangan. Ini kompleks dan mahal, tetapi memberikan keyakinan tertinggi.
Dokumentasikan setiap uji coba, termasuk temuan dan area perbaikan. Proses ini juga menjadi bukti objektif untuk audit sertifikasi nantinya.
Siklus Review dan Peningkatan Berkelanjutan (Plan-Do-Check-Act)
Prinsip PDCA dalam ISO 27001 berlaku mutlak untuk DRP. Rencana harus direview setidaknya setahun sekali, atau ketika ada perubahan signifikan pada bisnis, teknologi, atau lingkungan risiko. Perubahan struktur organisasi, migrasi ke cloud, atau pandemi baru adalah pemicu review. Pemeliharaan rutin ini memastikan DRP Anda tetap up-to-date dan relevan. Lembaga sertifikasi seperti BNSP juga menekankan pentingnya siklus peningkatan berkelanjutan dalam skema sertifikasi kompetensi kerja terkait.

Baca Juga
Integrasi dengan Sistem Manajemen Lainnya dan Sertifikasi
DRP berdasarkan ISO 27001 tidak hidup sendirian. Ia harus selaras dengan sistem manajemen lain di perusahaan untuk menciptakan organizational resilience yang utuh.
Sinergi dengan SMK3, ISO 22301, dan Tata Kelola Perusahaan
Bagaimana jika bencana menyebabkan cedera pada personel? Di sinilah integrasi dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) menjadi krusial. Demikian pula, ISO 22301 tentang Business Continuity Management Systems (BCMS) adalah standar spesifik yang dapat diselaraskan sempurna dengan klausul A.17 ISO 27001. Pendekatan terintegrasi ini menghilangkan silo, mengoptimalkan sumber daya, dan memberikan pandangan yang komprehensif kepada manajemen puncak.
Menyiapkan DRP untuk Audit Sertifikasi ISO 27001
Jika tujuan akhir Anda adalah sertifikasi ISO 27001, dokumentasi dan rekaman DRP Anda akan diaudit secara ketat. Auditor akan memeriksa apakah Anda telah melakukan BIA, risk assessment, uji coba, dan review sesuai standar. Mereka akan mewawancarai anggota tim tanggap darurat untuk memastikan pemahaman terhadap peran mereka. Memiliki DRP yang matang tidak hanya melindungi bisnis tetapi juga menjadi nilai tambah yang signifikan dalam proses audit. Untuk mempermudah perjalanan sertifikasi Anda dari nol hingga sertifikat terbit, bermitra dengan konsultan berpengalaman seperti Gaivo Consulting dapat memberikan akselerasi dan kepastian.

Baca Juga
Kesimpulan dan Langkah Konkret Anda Selanjutnya
Menyusun Rencana Pemulihan Bencana berdasarkan prinsip ISO 27001 adalah investasi strategis untuk melindungi masa depan bisnis Anda. Ini bukan proyek sekali waktu, melainkan perjalanan berkelanjutan yang melibatkan analisis mendalam, perancangan strategis, uji coba rutin, dan penyempurnaan berulang. Dengan pendekatan terstruktur ini, organisasi Anda tidak hanya sekadar siap menghadapi badai, tetapi mampu bangkit lebih cepat dan lebih kuat dari pesaing yang tidak siap.
Jangan biarkan ketidakpastian mengancam aset informasi yang Anda bangun susah payah. Mulailah dengan langkah kecil: kumpulkan pemangku kepentingan kunci dan diskusikan skenario gangguan paling menakutkan bagi departemen mereka. Jika Anda merasa membutuhkan panduan ahli untuk menyusun DRP yang sekaligus menjadi pijakan kuat menuju sertifikasi ISO 27001, Gaivo Consulting siap menjadi mitra strategis Anda. Kunjungi jakon.info untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana kami dapat membantu mengubah kerumitan standar internasional menjadi keunggulan kompetitif dan ketahanan bisnis yang nyata bagi perusahaan Anda. Waktu terbaik untuk menyusun rencana adalah sebelum bencana itu datang. Ambil tindakan sekarang.