Christina Pasaribu
1 day agoMenggali Tugas Dan Wewenang Wakasek Bidang Humas: Strategi Efektif untuk Peningkatan Citra Sekolah
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tugas dan wewenang Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Humas. Temukan peran krusialnya dalam manajemen humas sekolah, strategi efektif untuk peningkatan citra sekolah, dan bagaimana Wakasek Bidang Humas dapat menjadi kunci sukses dalam kendali komunikasi dan koordinasi publikasi sekolah.
Gambar Ilustrasi Menggali Tugas Dan Wewenang Wakasek Bidang Humas: Strategi Efektif untuk Peningkatan Citra Sekolah

Baca Juga
Mengapa Posisi Ini Bukan Sekadar 'Penerima Tamu'?
Pernahkah Anda membayangkan sebuah sekolah tanpa komunikasi yang jelas dengan orang tua, masyarakat, atau bahkan antar warga sekolah sendiri? Kekacauan informasi, mispersepsi, dan citra yang buram pasti akan terjadi. Di sinilah peran Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas muncul sebagai garda terdepan. Namun, dalam pengalaman saya berinteraksi dengan berbagai lembaga pendidikan, masih banyak yang memandang posisi ini sekadar sebagai 'juru foto acara' atau 'penerima tamu'. Padahal, dalam ekosistem pendidikan modern, tugas dan wewenang Wakasek Bidang Humas adalah strategic nexus—titik temu strategis yang menghubungkan visi sekolah dengan persepsi publik.
Fakta mengejutkan: Survei internal di beberapa sekolah menunjukkan bahwa lebih dari 60% ketidakpuasan orang tua bersumber dari komunikasi yang buruk, bukan dari kualitas akademik. Ini membuktikan bahwa pengelolaan humas yang profesional bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan primer. Artikel ini akan membedah secara mendalam tugas dan wewenang Wakasek Bidang Humas, lengkap dengan strategi nyata untuk mengubah fungsi ini menjadi mesin penggerak citra sekolah yang unggul.

Baca Juga
Memahami Posisi Strategis dalam Struktur Organisasi Sekolah
Sebelum menyelami tugasnya, kita harus paham di mana posisi ini bernaung. Dalam struktur organisasi sekolah yang ideal, Wakasek Bidang Humas tidak bekerja sendiri. Ia adalah mitra strategis Kepala Sekolah dan berjalin erat dengan Wakasek bidang Kurikulum, Kesiswaan, dan Sarana Prasarana.
Posisi dan Hubungan Koordinatif
Wakasek Humas bertindak sebagai gatekeeper dan spokesperson resmi di bawah arahan Kepala Sekolah. Wewenangnya dalam menyampaikan informasi ke publik harus selaras dengan kebijakan pimpinan. Namun, ia juga memiliki otoritas untuk merancang strategi komunikasi secara mandiri. Hubungannya dengan wali kelas, OSIS, dan komite sekolah harus bersifat simbiosis mutualisme. Misalnya, program kerja OSIS butuh publikasi, dan sebaliknya, konten humas butuh cerita dari aktivitas siswa.
Dalam praktiknya, sering terjadi tumpang tindih wewenang, terutama dalam penerbitan informasi di media sosial. Oleh karena itu, Standard Operating Procedure (SOP) komunikasi mutlak diperlukan. SOP ini yang akan menjadi panduan siapa yang berwenang menyetujui konten, menanggapi krisis, atau mewawancarai media eksternal.
Dasar Hukum dan Pijakan Formal
Landasan formal posisi ini biasanya tercantum dalam SK Kepala Sekolah tentang Pembagian Tugas Guru dan Tata Usaha. Dokumen ini harus merinci tugas pokok dan fungsi (tupoksi) secara eksplisit. Sayangnya, banyak sekolah hanya menggunakan template umum. Pengalaman saya membantu beberapa sekolah merevisi SK mereka, muatan spesifik tentang wewenang hubungan masyarakat—seperti hak negosiasi dengan mitra atau kewenangan membuat siaran pers—sangat meningkatkan efektivitas kinerja.
Selain itu, pedoman dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Penguatan Pendidikan Karakter dan Sekolah Sehat juga memberikan ruang gerak bagi Humas sekolah untuk berinovasi dalam program-program kemasyarakatan.

Baca Juga
Mengurai Tugas Pokok: Lebih Dari Sekadar Publikasi
Tugas Wakasek Bidang Humas adalah multi-dimensional. Ia bukan hanya content creator, tetapi juga relationship builder, brand guardian, dan crisis manager.
Membangun dan Mengelola Komunikasi Dua Arah
Inti dari semua tugas adalah membangun komunikasi yang efektif, transparan, dan berkelanjutan. Ini mencakup:
- Komunikasi Internal: Memastikan seluruh guru, staf, dan siswa mendapat informasi kebijakan yang sama. Tools-nya bisa melalui rapat briefing, grup WhatsApp resmi, atau portal internal. Hindari informasi yang by request saja.
- Komunikasi Eksternal: Menjembatani sekolah dengan orang tua, masyarakat, instansi pemerintah (seperti Dinas Pendidikan), hingga media massa. Rapat komite sekolah yang terstruktur adalah salah satu wujud nyata. Di sini, keahlian public speaking dan presentation skill sangat diuji.
Sebagai contoh, saat sekolah akan menerapkan sistem pembelajaran baru, Humas harus mampu 'menerjemahkan' kebijakan teknis dari kurikulum menjadi bahasa yang mudah dicerna orang tua, lengkap dengan alasannya dan manfaat untuk siswa.
Merancang Strategi Publikasi dan Branding Sekolah
Inilah ranah yang paling terlihat. Semua konten yang diterbitkan—berita di website, postingan Instagram, newsletter, hingga spanduk—adalah cerminan brand sekolah. Tugas Humas adalah merancang peta jalan konten (content roadmap) yang selaras dengan kalender akademik dan nilai-nilai sekolah.
Publikasi tidak boleh asal update. Setiap konten harus punya tujuan: apakah untuk mengedukasi, menginformasikan, atau membangun kebanggaan? Misalnya, mempublikasikan prestasi siswa di lomba sains tingkat nasional bukan hanya soal ucapan selamat, tetapi juga menunjukkan kualitas pembelajaran sains di sekolah tersebut.
Pengelolaan media sosial membutuhkan konsistensi dan analisis. Gunakan platform yang sesuai dengan audiens target; Instagram dan TikTok untuk menjangkau calon siswa dan orang tua muda, Facebook untuk komunikasi dengan orang tua yang lebih established.
Penanganan Isu dan Manajemen Krisis
Ini adalah ujian terberat. Ketika terjadi insiden, seperti kecelakaan kecil di lingkungan sekolah atau isu negatif yang beredar di masyarakat, Wakasek Humas harus menjadi first responder. Wewenangnya untuk mengambil langkah awal klarifikasi sangat krusial. Prinsipnya: cepat, akurat, dan satu suara.
Buat crisis communication protocol sederhana: (1) Verifikasi fakta, (2) Koordinasi dengan Kepala Sekolah untuk menentukan pernyataan resmi, (3) Sampaikan ke pihak internal terlebih dahulu, (4) Baru komunikasikan ke eksternal melalui saluran yang tepat. Jangan biarkan vacuum of information yang bisa diisi oleh spekulasi.

Baca Juga
Wewenang Krusial: Kekuatan untuk Bertindak dan Memutuskan
Tanpa wewenang yang jelas, tugas-tugas di atas hanya akan menjadi beban tanpa daya. Wewenang inilah yang membedakan seorang Wakasek Humas dari sekadar staf humas.
Wewenang Representasi dan Negosiasi
Wakasek Bidang Humas sering diberi wewenang untuk mewakili sekolah dalam forum eksternal, seperti pertemuan antar sekolah, kerja sama dengan dunia usaha (link and match), atau diskusi dengan komunitas. Dalam hal ini, ia berwenang untuk menyampaikan posisi sekolah dan bahkan melakukan negosiasi awal dalam kemitraan yang tidak melibatkan aspek finansial kompleks.
Misalnya, saat menjajaki kerja sama dengan penyedia platform edukasi teknologi, Wakasek Humas dapat melakukan exploratory meeting untuk memahami benefit-nya sebelum dibawa ke Kepala Sekolah untuk keputusan final.
Wewenang Pengelolaan Informasi dan Media
Wewenang ini mutlak. Wakasek Humas memiliki editorial control atas semua saluran komunikasi resmi sekolah. Ia berhak menyetujui, menunda, atau merevisi konten yang akan dipublikasikan untuk menjaga konsistensi pesan dan kesesuaian dengan etika sekolah. Wewenang ini juga mencakup penunjukan spokesperson lain jika diperlukan, seperti guru yang ahli di bidang tertentu untuk wawancara media terkait prestasi siswanya.

Baca Juga
Strategi Efektif untuk Mengoptimalkan Peran dan Meningkatkan Citra
Mengetahui tugas dan wewenang saja tidak cukup. Dibutuhkan strategi cerdas dan terukur untuk mengubahnya menjadi dampak positif bagi citra sekolah.
Mengadopsi Pendekatan Storytelling Digital
Masyarakatakat lelah dengan data kering. Mereka terhubung dengan cerita. Gunakan pendekatan digital storytelling untuk memublikasikan kegiatan sekolah. Alih-alih hanya melaporkan "Sekolah mengadakan bakti sosial", ceritakan perjalanan emosional satu siswa yang memimpin kegiatan tersebut, dampaknya bagi penerima, dan nilai karakter yang terbentuk. Konten seperti ini memiliki engagement dan daya ingat yang jauh lebih tinggi.
Manfaatkan berbagai format: video pendek (reels), foto storytelling dengan caption mendalam, podcast wawancara dengan guru inspiratif, atau blog singkat di website sekolah. Konsistensi dalam bercerita akan membentuk brand personality sekolah yang kuat.
Membangun Jejaring dan Kemitraan Strategis
Citra sekolah juga dibangun dari siapa teman bermainnya. Perluas jejaring secara strategis. Ini bisa dengan:
- Komunitas Lokal: Kerja sama dengan karang taruna, PKK, atau rumah kreatif untuk program community service siswa.
- Dunia Usaha/Industri: Menjalin kemitraan untuk program magang singkat, workshop, atau sponsorship acara. Pendekatan ke perusahaan kontraktor lokal untuk mendukung pelajaran prakarya, misalnya, bisa menjadi nilai tambah.
- Alumni: Aktifkan jaringan alumni sebagai duta brand, mentor, atau sumber donasi untuk pengembangan fasilitas.
Setiap kemitraan harus dirancang dengan Memorandum of Understanding (MoU) yang jelas, menguntungkan kedua belah pihak, dan tentu saja, dipublikasikan dengan baik.
Mengukur Kinerja dengan Metrik yang Relevan
Apa yang tidak diukur, tidak bisa dikelola. Tentukan Key Performance Indicator (KPI) untuk kinerja humas. Ini bukan sekadar jumlah like, tetapi metrik yang lebih substansial seperti:
- Tingkat Kepuasan Komunikasi (dari survei ke orang tua dan guru).
- Peningkatan Jumlah Pendaftar yang menyebutkan media sosial/website sebagai sumber informasi pertama.
- Sentimen Publik di kolom komentar dan media online.
- Kualitas dan Kuantitas Liputan Media lokal tentang kegiatan sekolah.
Dengan data ini, Wakasek Humas dapat melakukan evaluasi objektif dan menyusun strategi yang lebih data-driven di periode berikutnya.

Baca Juga
Menjadi Wakasek Humas yang Proaktif dan Berdampak
Posisi Wakasek Bidang Humas adalah posisi yang penuh dinamika dan tantangan. Ia adalah wajah, suara, dan telinga sekolah. Dengan memahami secara mendalam tugas dan wewenang Wakasek Bidang Humas, serta menerapkan strategi-strategi efektif yang berorientasi pada relationship building dan strategic communication, peran ini akan menjadi motor penggerak yang tak tergantikan dalam struktur organisasi sekolah.
Mulailah dengan memetakan ulang tupoksi yang ada, susun SOP komunikasi, dan bangun narasi positif secara konsisten. Ingat, citra sekolah yang baik dibangun dari kenyataan yang baik, lalu dikomunikasikan dengan brilliant. Jadilah narrator in chief bagi setiap prestasi, nilai, dan keunggulan yang sudah ada di sekolah Anda.
Untuk mendukung kinerja administrasi dan manajemen sekolah yang lebih tertib, termasuk dalam pengurusan perizinan operasional atau sertifikasi yang dapat mendukung citra kelembagaan, Anda dapat mengeksplorasi layanan konsultasi terpercaya di jakon.info. Membangun citra dimulai dari fondasi kelembagaan yang kuat dan legalitas yang jelas.